Pembelajaran
atletik pada sekolah dasar sangat dibutuhkan karena pembelajaran atletik dapat
membangun kerja sama dan rasa sportifitas antar siswa. Di samping itu,
pembelajaran dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat pantang menyerah.
Namun pada kenyataannya pembelajaran atletik di sekolah dasar bagi siswa kurang
menarik. Banyak siswa beranggapan proses pembelajaran atletik masih terpaku
pada pembelajaran yang asli sehingga para siswa kurang tertarik akan
pembelajaran yang diberikan. Para pendidik masih saja yang menyamakan proses
pembelajaran dengan anak SMP. Padahal siswa sekolah dasar masih membutuhkan proses
pembelajaran yang aktif, menarik, dan menyenangkan. Para pendidik seharusnya
dapat memodifikasi alat yang digunakan serta memberi variasi pada teknik dasar
sesuai usia anak sekolah dasar.
Dalam sub unit ini akan dibahas beberapa bahasan mengenai nomor-nomor dalam lempar
dan tolak. Bahan yang harus
dikuasai Anda adalah:
1.
Teknik
nomor-nomor melempar
2.
Teknik gerak dasar lompat
Setelah
mempelajari dengan seksama sub unit
ini diharapkan secara operasional Anda dapat dengan sungguh-sungguh:
1.
Mengerti
dan dapat melakukan gerak dalam nomor-nomor lempar yaitu lempar cakram, lempar
lembing, tolak peluru dan lontar martil.
2.
Mengerti
dan dapat melakukan serta menjelaskan nomor-nomor dalam lompat jauh yang
terdiri dari lompat jauh (gaya jongkok, menggantung, jalan di udara) dan lompat
tinggi (gaya flop, straddle, dan gunting).
A. Teknik
Nomor Melempar
Tujuan
utama dalam nomor lempar adalah melempar atau menolak dengan jarak yang
sejauh-jauhnya. Gerak dasar lempar menjadi sumber pokok pengembangan tugas ajar
dalam pembelajaran atletik. Siswa dapat diajarkan berbagai bentuk keterampilan
motorik yang sesuai dengan kemampuannya. melempar dapat dilakukan dengan tangan
kanan-kiri atau kedua tangan, lempar ke depan belakang, lempar ke
atas-bawah-samping, tolakan, lemparan dengan sasaran, lemparan dengan bola,
lemparan dengan peluru. Sebagai rangsangan kepada anak didik agar menyukai
olahraga lempar dikenalkan permainan sebagai berikut:
Untuk mengerti dan
memahami permainan yang lebih mendalam mengenai permainan dalam nomor lempar
silahkan membaca buku Hans Katzenbogner seperti yang telah tertera dalam daftar
pustaka. Setelah anak menyukai permainan-permainan yang dilakukan baru kemudian
dibawa lebih serius kepada nomor perlombaan. Dalam nomor lempar ada beberapa
cabang yang diperlombakan yaitu: lempar lembing, lempar cakram, dan tolak
peluru.
B.
Tolak
Peluru
Pada teknik dasar yang
diajarkan untuk anak sekolah dasar seharusnya disesuaikan dengan usia tersebut.
Dan tanpa mengesampingkan teknik dasar yang ada. Para pendidik dapat
memodifikasi dengan cara memberi variasi pada teknik dasar tersebut. Dalam hal
ini dikhususkan pada pembelajaran atletik tolak peluru untuk siswa sekolah dasar
kelas IV semester II. Para pendidik dapat memberikan teknik dasar yang sudah di
variasikan dengan permainan anak-anak seperti: kedua siswa menempelkan kedua
tangan mereka ke depan atas kira-kira 45 derajat dan saling mendorong atau
saling menolak. Ada juga dengan cara mengayunkan tangan dari bawah ke depan
atas kira-kira 45 derajat. Sehingga dengan adanya teknik dasar yang dibuat
permainan anak-anak diharapkan siswa sekolah dasar dapat tertarik akan
pembelajaran.
Dalam mempermudah
penyampaian materi teknik dasar para pendidik dapat memodifikasi alat
tolak peluru yaitu peluru yang digunakan untuk pembelajaran. Dengan adanya alat
yang sudah dimodifikasi diharapkan siswa dapat tertarik untuk mengikuti
proses pembelajaran yang diberikan. Dalam hal ini peluru pada tolak peluru
dibuat menyerupai yang asli, tetapi ukuran dan beratnya tidak sama karena
disesuaikan dengan usia siswa sekolah dasar. Peluru yang digunakan berupa bola
plastik berukuran sebesar bola kasti, bola yang serupa tetapi diisi air, balon
udara yang diisi air, dan kaleng bekas yang disusun sebagai sasaran peluru yang
akan ditolak. Peluru dan kaleng yang sudah dimodifikasi dicat agar menarik
minat siswa untuk mengikuti pembelajaran atletik tolak peluru. Dengan adanya
pembelajaran tolak peluru pada anak sekolah dasar diharapkan agar proses
pembelajaran dapat menjadi PAKEM.
Tolak peluru merupakan
salah satu jenis keterampilan menolakkan benda berupa peluru sejauh mungkin.
Sesuai dengan namanya, tolak, bukan lempar, alat itu ditolak atau didorong dengan
satu tangan, mula-mula alat diletakkan
dipangkal bahu. Ini berarti, siswa yang postur badannya tinggi dan besar, berpeluang lebih besar untuk
menjadi juara. Akan tetapi, tidak semua murid yang berpostur tubuh tinggi dan
besar, akan dapat menolak peluru dengan baik. Pencapaian prestasi tolakan
peluru membutuhkan koordinasi ketangkasan dan ketepatan waktu, kecepatan
melempar, disamping kekuatan. Dalam keterampilan tolak peluru, ada dua cara
awalan yang dapat dilakukan, yaitu awalan menyamping dan awalan mundur. Teknik
awalan menyamping sudah diajarkan ditingkat SD.
Untuk tingkat SLTP akan
digunakan teknik awalan mundur. Teknik awalan mundur disebut juga awalan
membelakangi arah tolakan. Awalan ini juga dikenal pula dengan nama Gaya
O’Brien, karena yang pertama kali melakukannya atau memperkenalkan adalah atlit
bernama Feery O’Brien.
|
Gaya inilah yang
menghasilkan tolakan yang paling jauh dibanding awalan lainnya. Paparan lebih rinci yang mengenai karakteristik
gerak dasar awalan mundur adalah sebagai berikut:
1.
Cara
memegang peluru
a.
Peluru
diletakkan pada pangkal jari-jari di telapak tangan.
b.
Jari
telunjuk, jari tengah dan jari
kelingking merupakan titik tolakan yang utama dan membantu proses lontaran.
c.
Jari-jari tidak boleh berjauhan, jari kelingking dan ibu jari menjaga
kedudukan agar tidak bergeser, atau jatuh, kemudian peluru diletakkan didepan bahu.
d.
Siku
diangkat setinggi bahu, dan peluru bagian atas sedikit menempel pada tulang
rahang bawah.
2.
Sikap
badan saat menolak
a.
Posisi
badan membelakangi arah tolakan, ini berarti sektor tolakan berada dibelakang.
b.
Bagi
penolak dengan tangan kanan, berat badannya harus berada diatas kaki kanan
dengan cara membungkukkannya ke depan.
c.
Kaki kiri diangkat kebelakang dan berpijak pada ujung kaki.
d. Siku lengan kiri dibengkokkan berada didepan dada.
e.
Menjaga keseimbangan badan, badan harus rileks.
3. Gerakan Menolak
Pada saat posis badan sudah tepat dan keseimbangan, dan peluru dipegang
dengan baik,mulailah berkonsentrasi dengan mengayun-ayunkan kaki kiri dengan
muka dan ke belakang sehingga siap untuk tolakan.
a.
Geserkan kaki kanan dengan cepat ke belakang ke arah tolakan.
b. Selanjutnya, kaki kanan mendarat
ditengah-tengah lingkaran.
c.
Lutut kanan masih tetap terlipat.
d. Telapak kaki kanan mampu kuat di tanah.
e.
Badan masih berputar kebelakang, siap untuk meolak,
kemudian luruskan lutut dengan tolakan yang kuat, sambil memutar badan ke depan
arah tolakan.
f.
Lanjutkan dengan dorongan atau tolakan kuat tangan kanan
ke arah atas dengan sudut tolakan lebih ke kaki kanan.
g. Badan masih berputar ke belakang, siap
untuk menolak,kemudian luruskan lutut dengan tolakan yang kuat, sambil memutar
badan ke depan ke arah tolakan.
h. Lanjutkan dengan dorongan atau tolakan
kuat tangan kanan ke arah atas dengan sudut tolakan lebih kurang 45 derajat.
4. Gerak Lanjutan dan Sikap Akhir
Gerakan akhir dengan gerak lanjutan dengan tahapan sebagai berikut :
a.
Setelah peluru dilepas, kaki kanan mendarat di depan
menggantikan kedudukan kaki kiri.
b. Kaki kiri terangkat untuk menjaga
keseimbangan badan agar tidak jatuh ke depan.
Berdasarkan gambar di atas dapat mewakili gambaran yang sebelumnya telah
diberikan secara point per point. Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa ada fase preparation
(persiapan), glide (pergeseran), throw (menolak) dan recovery (pemulihan
atau fase gerak lanjutan). Hal yang tidak kalah penting adalah fase power
position (posisi terkuat untuk melakukan awalan menolak).
Hal yang perlu dihindari agar hasil tolakan jauh :
1. Kurang keseimbangan pada awal gerakan.
2. Gerak luncur tak sempurna karena dorongan terlalu tinggi.
3. Mengangkat badan terlalu tinggi pada
saat meluncur.
4. Tidak menarik kaki kanan cukup jauh ke
dalam di bawah badan (untuk yang tidak kidal).
5. Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke
belakang.
6. Gerakan kaki kiri terlalu ke samping.
7. Terlalu cepat membuka badan.
8. Mendarat dengan badan menghadap ke
samping atau ke depan
Berkebalikan dengan hal di atas, hal yang harus diperhatikan pada saat
melakukan tolak peluru adalah :
1. Usahakan kaki kiri seimbang sepenuhnya
dengan kaki kiri mendorong jauh ke
belakang.
2. Capailah gerakan kaki seimbang
sepenuhnya dengan kaki kiri mendorong jauh ke belakang.
3. Usahakan badan bagian atas selalu
relaks, sedang bagian bawah bergerak.
4. Mencapai gerakan berkejangkauan luas dan
cepat dari kaki kanan.
5. Putarlah kaki kanan ke dalam selama
gerakan meluncur.
6. Usahakan pinggang kiri dan bahu
menghadap ke belakang selama mungkin.
7. Usahakan lengan kiri dalam posisi
tertutup.
8. Tahanlah yang kuat dengan kaki kiri.
C. Teknik Gerak Dasar Loncat
Lompatan merupakan salah satu keterampilan kelompok yang harus dikuasai
oleh siswa SD melalui pembelajaran pendidikan jasmani. Keterampilan melompat memiliki 4 nomor
yaitu lompat jauh, lompat tinggi dan lompat galah. Keempat nomor ini perlu diajarkan kepada siswa SD khususnya lompat galah, guru bisa mempertimbangkan mana kala
peralatan yang tersedia tidak memadai. Namun, sebagai pengayaan dalam pemahaman
konsep gerak, tidak ada salahnya guru mencoba menyajikannya kepada siswa. Dalam
nomor lompat kita mengenal ada 2 nomor
lompat yaitu lompat jauh dan
lompat tinggi.
Sebagai bahan permainan agar pembelajaran menarik dapat diberikan contoh
permainan-permainan yang dapat dipilih dan dimodifikasi. Pelaksanaan modifikasi
ini tergantung dari tingkat kreativitas kita untuk bersenang-senang dengan anak
didik dan menyenangkan anak didik.
Lompat jauh adalah keterampilan gerak berpindah dari satu tempat ke tempat
lainnya dengan satu kali tolakan ke depan sejauh mungkin untuk memperoleh hasil
yang maksimal, pelompat dapat melakukannya dengan berbagai gaya, yaitu terlihat
dalam gambar singkat sebagai berikut:
Gambaran setiap teknik yang dipergunakan dalam lompat jauh memiliki
kesamaan pada fase awalan dan take
off. Perbedaan terjadi setelah pelompat melakukan tolakan dan
melayang di udara. Gerakan apa yang dilakukan pada waktu di udara dijadikan
nama dari teknik melomat. Secara
pembahasan teknik lompat jauh memiliki 4
fase; approach, take off (saat menolak), flight (melayang) dan landing
(pendaratan). Setiap gaya memiliki masa keemasan masing-masing. Berdasarkan
gambar diaas dapat dirinci satu persatu secara deskripsi sebagai berikut :
1.
Nomor lompat jauh
a. Lompat jauh gaya jongkok (Gaya Ortodok)
Gaya jongkok merupakan salah satu gaya dalam lompat jauh. mengapa
disebut gaya jongkok? Karena gerak
sikap badan sewaktu berada di udara menyerupai sikap seseorang yang sedang
berjongkok. teknik gerak dasar dalam lompat jauh gaya jongkok meliputi awalan,
tumpuan atau tolakan, melayang dan mendarat.
1) Awalan
Awalan berguna untuk mendapatkan
kecepatan berlari se optimal mungkin sebelum mencapai balok tumpuan. Untuk
mencapai kecepatan maksimal, biasanya awalan berjarak antara 30-40 meter.
Latihan kecepatan awalan dapat dilakukan dengan latihan-latihan sprint 10-20
meter yang dilakukan berulang-ulang. Panjang langkah, jumlah langkah dan
kecepatan berlari dalam mengambil awalan, harus selalu sama. Menjelang tiga
sampai empat langkah sebelum balok tumpu, seorang pelompat harus mampu
berkonsentrasi untuk dapat melakukan tumpuan dengan kuat, tanpa mengurangi kecepatan.
2) Tumpuan atau tolakan
Tumpuan adalah perpindahan yang sangat cepat antara lari awalan dan
melayang. Ketepatan pada balok tumpu serta besarnya tenaga tolakan yang
dihasilkan oleh kaki, sangatlah menentukan bagi pencapaian hasil lompatan. Oleh sebab itu, latihan ketepatan menumpu pada
balok tumpu dapat dilakukan dengan membiasakan
jumlah langkah sebanyak 5 hingga 7 langkah. Tumpuan kaki dapat dilakukan
dengan kaki kiri maupun kaki mana yang lebih kuat dan lebih dominan. Pada waktu
menumpu, badan condong ke depan, titik berat badan harus terletak agak ke depan. Titik sumber tenaga,
yaitu kaki tumpu menumpu secara tepat pada balok tumpu, segera diikuti dengan gerakan kaki yang diayunkan ke
arah depan atas, dengan sudut tolakan berkisar antara 40-50 derajat.
3) Melayang (sikap badan saat di udara)
Setelah pelompat menumpu pada balok tumpuan, maka dengan posisi badan
condong ke depan ia terangkat melayang di udara, bersamaan dengan ayunan kedua
lengan ke depan atas. Untuk mendapatkan tinggi dan jauhnya lompatan, ia harus
meluruskan kaki tumpu selurus-lurusnya dan secepat-cepatnya. Pada waktu naik,
badan harus dapat ditahan dalam keadaan rileks (tidak kaku), kemudian dilakukan
gerakan-gerakan seikap tubuh di udara (waktu melayang). Posisi langkah pada
waktu diudara berlangsung setelah kaki tolak menolakkan kaki pada balok
tumpuan, kaki diayunkan kedepan atas untuk membantu mengangkat titik berat
badan ke atas. Selanjutnya, diikuti kaki tolak menyusul kaki ayun. Pada saat
melayang, kedua kaki sedikit ditekuk sehingga posisi badan dalam sikap menjongkok. Keadaan ini harus dapat
dipertahankan, sebelum pelompat melakukan pendaratan.
4) Pada waktu mendarat
Pelompat harus menjulurkan kedua belah tangan sejauh-jauhnya kemuka dengan
tidak kehilangan keseimbangan badannya, supaya tidak jatuh kebelakang. Untuk
mencegahnya, berat badan harus dibawa
kedepan, dengan cara membungkukkan badan dan lutut hampir merapat, dibantu
dengan cara menjulurkan tangan ke depan. Pada waktu pendaratan, lutut
dibengkokkan, sehingga memungkinkan suatu
momentum membawa badan ke depan atas. Kaki mendarat, dilakukan dengan tumit
terlebih dahulu mengenai tanah.
b. Lompat jauh gaya menggantung (gaya Snepper)
Gaya menggantung merupakan salah satu gaya dalam lompat jauh. Mengapa
disebut gaya menggantung, karena gerak dan sikap badan di udara, menyerupai
orang yang sedang menggantung atau melenting ke belakang. Unsur-unsur yang
harus dikuasai dalam melmpat gaya menggantung adalah: awalan, tumpuan/tolakan,
sikap melayang dan mendarat. Keempat unsur ini mutlak harus dikuasai oleh
pelompat. Tanpa pengetahuan teknik yang baik dan benar, hasil yang diperolehnya
tidak akan maksimal.
1) Awalan
Awalan harus dimulai dengan lari, yang berguna untuk mencapai kecepatan
lari semaksimal mungkin sebelum mencapai balok tumpuan. Jarak awalan lari,
tergantung pada pelompat. Bagi para pemula, seperti siswa SD, sebaiknya
mengambil awalan cukup 10-15 meter. Bagi atlit yang sudah maju, untuk membangun
kecepatan maksimal, ia harus mengambil awalan antara 20-30 meter.
2) Tumpuan/tolakan
Tumpuan atau tolakan merupakan perpindahan yang cepat antara lain, awalan
dan melayang. Urutan gerak tumpuan yang benar adalah :
a) Tolakan dengan salah satu kaki yang
lebih kuat dan dominan.
b) Ketepatan tumpuan pada balok tumpu,
serta tenaga tolakan, sangat menentukan hasil lompatan.
c) Pada saat kaki menumpu pada balok, badan
harus agak condong ke depan.
d) Titik badan harus terletak agak ke muka.
e) Gerakan kaki ayam, ke arah depan atas.
f) Sudut tolakan,kurang lebih 45 derajat.
3) Melayang (sikap badan di udara)
Setelah melompat menumpu pada balok tumpuan, maka
badan akan terangkat ke udara, dengan sikap/gaya menggantung. Untuk
melakukannya, perlu dipatuhi beberapa prinsip :
a) Pada saat melayang kaki diayun dan
diangkat ke depan.
b) kaki tolak, selaras dari tanah,
diayunkan kembali ke belakang bersamaan atau sejajar dengan kaki ayun.
c) Sikap badan dibusungkan ke depan atau
melenting ke belakang.
d) Lengan diayunkan ke atas belakang.
e) Kepala tengadah.
4) Mendarat

c.
Lompat
jauh gaya jalan di udara (walking in the air)
Gaya berjalan di
udara merupakan salah satu gaya dalam lompat jauh. Mengapa disebut gaya
berjalan di udara? karena gerak dari sikap badan di udara menyerupai orang yang
sedang berjalan. Fase yang harus dilalui dalam lompat jauh jalan di udara hampir sama dengan dua jenis lompat jauh yang sebelumnya. Fase
tersebut adalah fase awalan, tumpuan, melayang dan mendarat.
1)
Fase
awalan
Fase awalan
merupakan tahap Dimana pelompat mempersiapkan diri dengan berlari dengan kecepatan
yang optimal untuk menghasilkan lompatan
yang maksimal. Jauh dekat awalan pada dasarnya tidak ada ketepatan. Hal ini
disebabkan setiap individu memiliki perbedaan dalam hal jarak yang dibutuhkan.
Seorang pelompat akan membuat tanda jarak biasanya pelompat melakukan awalan.
2)
Fase
tumpuan
Fase ini merupakan
fase yang menetukan apakah lompatanyang dihasilkan jauh atau tidak dalam satuan
jarak. Tumpuan yang dipergunakanmenggunakan kaki yang terkuat, menumpu pada
balok tumpuan. Agar dekat tepat pada balok tumpuan pelompat biasanya melakukan check beberapa
kali dalam menyesuaikan langkah Pada waktu menumpu ada kaki tumpu berperan sebagai tolakan dan kaki yang lain bertindak
sebagai kaki ayun. Kaki ayun in akan memberi momentum ke atas dan menambah daya
dorong dari kaki tumpu.
3)
Melayang
Dalam lompat jauh
gaya jalan di udara, pelompat melakukan gerakan seperti berjalan di udara
dengan cepat. Gerakan berjalan di udara dilakukan sekuat tenaga seirama dengan
gerakan tangan dan lengan. Jalan di udara akan membawa keuntungan menambah gaya dorong. Hal ini disebabkan oleh
bertambahnya fungsi kaki ayun yang berulang-ulang.
4)
Mendarat
Fase mendarat
merupakan bagian akhir dari lompat jauh semua gaya. Pendaratan yang dilakukan
dalam lompat jauh gaya jalan di udara dilakukan dengan menjulurkan lengan ke
depan. Pendaratan diusahakan sejauh mungkin dari balok tumpuan.Perlu
diperhatikan bahwa ukuran lompatan berakhir pada bagian tubuh paling belakang
yang menyentuh pasir pada bak lompat.
2. Nomor
Lompat Tinggi
Nomor lompat termasuk pada keterampilan gerak asikliss.
Perbedaan yang mencolok dari semua nomor lompat adalah fase melayang di udara.
Nomor-nomor lompat dalam atletik adalah lompat jauh, lompat jangkit, lompat
tinggi dan lompat galah. Tujuan nomor lompat adalah memindahkan jarak
horizontal titik berat badan pelompat sejauh mungkin (lompat jauh, jangkit) dan
memindahkan jarak vertikal titik berat badan setinggi mungkin (lompat tinggi,
dan galah). Tujuan lompat tinggi adalah melompat setinggi-tingginya dengan cara
melewati mistar sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Lompat tinggi merupakan nomor individu dengan memperlombakan
sejauh mana pelompat dapat melampaui mistar. Dalam lompat tinggi, ketinggian
lompatan ditentukan oleh jumlah tiga ketinggian yang tidak bisa dipisahkan, yaitu:
(1) ketinggian titik berat badan atlet pada saat tolakan kaki tersebut, (2)
ketinggian perpindahan titik berat badan atlet setelah tolakan kaki tersebut,
(3) perbedaan ketinggian maksimum titik berat badan atlet dengan ketinggian
berat badan saat melewati mistar.
Hasil lompat tinggi ditentukan oleh jumlah hasil ketinggian
yang dicapai dari ketinggian tolakan kaki, ketinggian melayang di udara, dan
ketinggian melewati mistar. Ketinggian tolakan kaki ditentukan oleh posisi
badan saat menolak. Ketinggian melayang di udara ditentukan oleh kecepatan
vertikal dan perubahan kecepatan vertikal ketinggian melewati mistar ditentukan
oleh posisi badan tertinggi yang dicapai dengan gerakan melewati di atas
mistar. Dalam nomor lompat tinggi kita mengenal tiga macam gaya, yaitu: (1)
gaya flop, (2) gaya guling straddle, (3) gaya gunting.
a.
Gaya
flop
Lompat tinggi gaya flop merupakan gaya yang terbaru dan
sekarang banyak dipergunakan oleh pelompat-pelompat dunia. Dibandingkan dengan
gaya yang lain, gaya ini lebih efisien dalam memanfaatkan momentum ke atas dari
gaya sentrifugal. Fase-fase dalam lompat tinggi gaya flop adalah sebagai
berikut: awalan, tumpuan, melayang dan pendaratan.
1)
Fase
awalan
Awalan dalam lompat tinggi gaya flop biasanya dilakukan lari
awalan 9 sampai 11 langkah melalui garis yang melengkung untuk 4 sampai 5
langkah terakhir. Langkah awalan ini lebih pendek daripada langkah awalan untuk
lompat tinggi gaya straddle, terutama beberapa langkah terakhir dan gerak tumit
pertama yang berat dikurangi.
Gerak
kaki dari sedikit mengikuti suatu jalur yang paralel dengan mistar lompat,
langkah terakhir dilakukan cepat dan lebih pendek daripada langkah kedua dari
belakang. Lengan bersiap untuk melakukan gerakan mengangkat yang terakhir
sedangkan badan condongkan ke belakang sedikit.
2)
Fase
tolakan/take off
Ini terjadi sangat cepat, kaki penolak ditekuk sedikit
daripada gaya straddle dan kaki yang belum umumnya diangkat dengan
dibengkokkan, kaki penolak, mengikuti garis normal dari lengkung awalan, dicampakkan
hampir paralel dengan mistar lompat dan kaki bebas memutar ke dalam pada saat
lutut diangkat kuat setinggi pinggang. Gerak rotasi untuk memutar punggung
terhadap mistar lompat dihasilkan oleh keduanya, oleh kaki bebas ditarik ke
dalam menyilang badan oleh kaki penolak memutar menghadap suatu garis yang
lebih paralel dengan mistar lompat. Kedua lengan didorongkan ke atas
sekuat-kuatnya dan sendi bahu dalam
gerakan mengangkat ini. Ada sedikit gerak memilin antara bahu dan
pinggang, dengan bahu dan muka diputar sedikit terhadap mistar.
3)
Fase
melayang
Pada fase titik tinggi lompatan, siswa telah memutar sedemikian sehingga punggungnya menghadap
mistar lompat. Kedua kaki tergantung rileks, ditekuk dan sedikit terpisah.
Pinggang terangkat, menghasilkan sikap melengkung yang khas.
Pada ketinggian mistar, badan terus berotasi memutar bagian
atasnya melintang. Kepala dan bahu diturunkan ke arah matras pendaratan
kemudian segera sesudah pinggang melewati mistar, kepala melewati atas dan kaki
yang saat ini bengkok adalah diangkat. Melewati mistar yang terakhir dilakukan
dengan pertama mengangkat lutut kemudian segera meluruskan kaki. Pendaratan
dilakukan dengan punggung dan kaki terus bergerak ke belakang.
Berdasarkan analisis
bahwa fase dalam lompat tinggi gaya flop dapat dibagi atas empat (4) fase; approach (awalan sampai langkah
terakhir), take off (tolakan), bar clearance (posisi melayang melewati
mistar), dan landing (pendaratan).
Hal-hal
yang perlu untuk dihindari dalam lompat tinggi gaya flop adalah sebagai
berikut:
a)
Lari awalan yang terlalu kencang.
b)
Langkah
akhir yang terlalu panjang dan lambat.
c)
Condong
badan ke arah mistar lompat.
d)
Kekurangan
daya angkat dari lengan pada saat bertolak.
e)
Sikap
badan yang kurang menguntungkan di atas mistar.
f)
Membentuk
lengkung badan yang prematur/mendahului.
g)
Gerakan
melewati mistar terlalu lambat oleh tungkai kaki.
Hal-hal yang harus
diutamakan dalam lompat tinggi gaya flop adalah sebagai berikut:
a)
Lari
awalan dengan kecepatan yang terkontrol.
b)
Lakukan
langkah dengan akhir cepat.
c)
Ciptakan
angkatan vertikal pada saat bertolak/take
off.
d)
Dorong
bahu dan lengan ke atas pada saat bertolak.
e)
Turunkan
kepala dan angkat pinggang di atas mistar.
f)
Habiskan
gerak angkatan secara maksimal sebelum memulai gerak rotasi/memutar.
g)
Angkatlah
kaki dan kemudian luruskan dengan cepat segera setelah pinggang melewati mistar
(Suyono, 1993: 73).

b.
Gaya
guling (straddle)

|
1)
Awalan
Awalan
dilakukan dengan mengambil tempat menyamping kira-kira 35 – 45 derajat. Langkah
dalam melakukan awalan selalu ganjil. Cara mengukur jumlah langkah awalan
dihitung mundur dari tempat melakukan tolakan.
2)
Tolakan
Tolakan
pada lompat tinggi gaya guling dengan menggunakan kaki tumpu bagian dalam dan
kaki ayun bagian luar. Berbeda dengan kaki tumpu pada gaya lompat tinggi gaya
flop. Pada gaya flop kaki tumpu adalah kaki bagian luar dan kaki ayun bagian
dalam. Pada waktu melakukan tumpuan dan menolak pada gaya guling kaki ayun
langsung melangkah ke atas untuk melompati mistar.
3)
Sikap
tubuh diatas mistar
Tubuh
di atas mistar dimulai setelah kaki ayun melangkah bersamaan dengan tolakan
kaki tumpu menolak. Saat ada dorongan dari kaki tumpu badan dengan cepat
dibalikkan serta kepala tunduk. Posisi pantat lebih tinggi daripada pundak dan
kaki tolak dilipat, kemudian digerakkan dari samping ke atas punggung supaya
tidak menyentuh mistar.
4)
Mendarat
Bagian tubuh yang pertama kali mendarat adalah kaki ayun dan
kedua tangan. Dengan pendaratan yang seperti ini, maka lompat tinggi model ini
sering disebut lompat tinggi gaya anjing kencing.
c.
Gaya
gunting
Gaya ini dinamakan gaya gunting karena gerakan tungkai pada
waktu melompati mistar seperti gerakan menggunting. Lompat jauh gaya gunting dapat dijelaskan menjadi tiga tahap.
Tahap pertama adalah tahap awalan terdiri atas lari awalan diakhiri dengan langkah terakhir dengan langkah panjang
dan merendahkan diri untuk mendapatkan tolakan yang tinggi. Kaki tumpu adalah
kaki bagian dalam dan kaki ayun adalah kaki bagian luar. Setelah melakukan
tolakan, kaki yang bertugas sebagai kaki ayun langsung naik ke atas melewati
mistar bersama tubuh bagian atas. Kemudian kaki tumpu naik mengikuti gerakan
kaki ayun melewati mistar dengan melakukan penekukan maksimal ke belakang untuk
menghindari mistar. Sikap tubuh di atas mistar adalah telungkup dan mistar
berada di bawah pangkal paha. Setelah melewati mistar, gerakan selanjutnya
adalah gerakan pendaratan. Pendaratan dilakukan dengan kaki ayun terlebih
dahulu diikuti kedua tangan dan kaki tumpu tetap dalam keadaan terangkat.
Secara
umum hal-hal yang harus dihindari pada waktu melakukan lompat tinggi adalah:
1)
Memperpendek
langkah akhir.
2)
Mencondongkan
badan ke arah mistar-lompat pada saat bertolak.
3)
Angkatan
(ke atas) tidak sempurna dari kaki bebas.
4)
Mengangkat
kaki penolak tanpa membengkokkannya.
5)
Melengkungkan
badan ke belakang dan mengangkat kepala pada waktu melewati mistar.
6)
Putaran/rotasi
pinggang untuk memutari mistar-lompat tidak cukup.
Hal-hal yang harus
diperhatikan/dilakukan pada waktu melakukan lompat tinggi antara lain:
1)
Memperpanjang
langkah akhir dan merendahkan titik-pusat gravitasi.
2)
Bertolak
dan angkat badan secara vertikal dengan gerakan lengan yang benar.
3)
Ayunan
kaki bebas tinggi-tinggi.
4)
Tekuklah
kaki penolak pada saat diangkat (ke atas).
5)
Rendahkan
kepala dan bahu pada saat melampaui mistar.
6)
Buka
keluar dengan kaki penolak untuk melampaui mistar (Suyono, 1993)
apa perbedaan lempar dengan tolaknya mas br0....????
BalasHapus