Jumat, 24 Februari 2012

Evaluasi Dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Sebagai guru SD Anda merasa bahagia apabila semua murid yang dididik sehat jasmaninya dan dapat belajar dengan gembira serta mudah menyerap materi pelajaran secara maksimal. Kesegaran jasmani merupakan tujuan utama dari Pendidikan Jasmani di sekolah. Dengan kesegaran jasmani yang prima bagi seorang murid maka akan dapat melakukan semua kegiatan yang dibebankan kepadanya. Untuk mengetahui tentang kesegaran jasmani murid, maka guru perlu melakukan suatu  kegiatan  evaluasi atau  penilaian  tentang kegiatan Pendidikan Jasmani yang diajarkannya. Di samping untuk melakukan kegiatan penilaian terhadap kesegaran jasmani murid, guru dalam kegiatan pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesegaran di sekolah, guru juga melakukan kegiatan penilaian antara lain:

Antrophometri
Antropometri adalah kegiatan mengukur postur tubuh murid yang berkaitan dengan: tinggi badan, berat badan, panjang tungkai, Panjang togok, lingkar dada, lengan, paha dan sebagainya. Dengan melakukan  pengukuran terhadap antropometri murid, maka guru akan dapat mengetahui perkembangan dan pertumbuhan muridnya selama menjadi murid di sekolah tersebut. Selain itu, guru dapat pula mengetahui tentang tipe muridnya seperti: kurus (astenis), gemuk (piknis), dan berotot (atletis), kegiatan-kegiatan jasmani sesuai dengan tipe muridnya, terutama dalam memberi beban tugas.


A.    Kemampuan Gerak pada Umumnya
Penilaian terhadap kemampuan gerak umum dari murid tersebut dengan tujuan menilai terhadap kemampuan berolahraga yang berkaitan dengan tes mengukur terhadap kemampuan mudah atau tidaknya seseorang mempelajari atau  menerima keterampilan gerak dasar teknis olahraga (motor educability). Di samping itu juga tes tentang motor ability yaitu tes berkaitan dengan kemampuan melakukan gerak dasar cabang olahraga.
Tes  kemampuan gerak tersebut mempunyai serangkaian bentuk tes item yang terdiri dari: lari – lompat - push up - pull up - sit up dan sebagainya. Hal ini tergantung pada maksud dan tujuan dari tes yang diharapkan. Sebagai contoh serangkaian item tes yang dapat dilaksanakan untuk murid SD adalah:

Lari 50 m                                                         Lari jalan 800 m
Push up dalam 30 detik                                  Sit up dalam 30 detik
Lari mondar-mandir  4 x 10 m
Item tes ini dapat dilaksanakan 2 hari atau sehari tergantung pada kondisi fisik para muridnya. Hal yang penting bahwa murid-murid tersebut melakukannya sesuai kemampuan diri sendiri tanpa ada paksaan. Hasil tes harus dicatat oleh guru sehingga dapat digunakan sebagai bahan perbandingan terhadap awal tes dengan hasil tes berikutnya. Hasil tersebut perlu diberitahukan kepada para murid agar mereka dapat mengetahui tentang perubahan yang telah dicapainya dari hasil latihan selama pelajaran Penjaskes. Pemberitahuan tersebut dapat ditulis besar seperti pengumuman di papan pengumuman. Bilamana guru memiliki penilaian normatif seperti penilaian dari ACPFT (Asian Children Physical Fitness Test) sebaiknya digunakan norma penilaian tersebut, bilamana tidak ada, maka digunakan Nilai Acuan Patokan Prosentase dari hasil rata-rata keseluruhan hasil yang telah dilakukan oleh para muridnya.
2.      Mengukur Kemampuan Otot
Pengukuran terhadap kemampuan otot ini tidak semua dapat digunakan untuk murid-murid SD, khususnya untuk kelas I sampai dengan kelas IV, mungkin untuk kelas V dan VI, mengingat bahwa Penjaskes SD lebih banyak bersifat bermain gembira serta sehat, maka untuk melakukan tes kemampuan otot ini merupakan pengetahuan yang perlu dimiliki oleh seorang Guru SD, agar dapat digunakan oleh guru tersebut, bilamana terjun di masyarakat atau diminta untuk mengajar di SLTP.
Jenis tes untuk kemampuan otot sebagai berikut:
1.      Tes kekuatan otot
Tes kekuatan otot ini digunakan alat ukur yang disebut dynamometer. Otot yang diukur antara lain kekuatan peras dari tangan, kekuatan otot punggung, kekuatan otot tungkai atau otot lengan dan sebagainya.
2.      Tes daya ledak otot
Daya ledak otot atau explosive power merupakan tenaga untuk memindahkan tubuh dalam waktu tertentu, misalnya melompat (dengan awalan satu kaki), meloncat (dengan awalan dua kaki), melempar, memukul dan sebagainya.
Contoh tes kamampuan daya ledak otot sebagai berikut:
Lompat tegak
a.       Alat yang diperlukan:
1)      Papan berskala yang ditempel di dinding
2)      Penghapus papan tulis
3)      Serbuk kapur
4)      Alat tulis
b.      Pelaksanaan:
a)      Papan berskala di tempel di dinding setinggi jangkauan murid-murid
b)      Peserta berdiri menyamping dinding dibawah papan skala
c)      Tangan peserta diolesi kapur khususnya pada ujung jarinya
d)     Peserta meraihkan tangannya lurus ke atas setinggi-tingginya menempel ke papan skala, sehingga bekas tempelan tangan tertera di papan skala. Selanjutnya dicatat seberapa jangkauan tersebut.
e)      Kemudian peserta melakukan ancang-ancang untuk melompat ke atas tegak lurus, selanjutnya peserta melakukan lompatan ke atas setinggi-tingginya sambil meraih tangan yang dioles kapur tersebut menyentuh papan skala, sehingga berbekas di papan skala dan dapat dibaca oleh guru dan dicatat.
f)       Selanjutnya dihitung selisih antara jangkauan tangan dengan hasil raihan tangan dengan lompat tegak tersebut. Selisih inilah merupakan kemampuan daya ledak otot tungkai.

3.      Tes daya tahan
Tes daya tahan ini berkaitan dengan jantung dan paru-paru. Tes ini bertujuan untuk mengetahui tentang daya tahan atau kemampuan kerja fisik seseorang, dengan cara: jalan cepat atau lari dalam jarak tertentu sesuai dengan standar penilaian yang telah ditetapkan seperti yang diciptakan oleh Kenneth H. Cooper yaitu tes aerobik. Memang untuk tes aerobik dari Cooper ini digunakan untuk usia 13 tahun  ke atas. Tetapi tidak ada salahnya untuk digunakan bagi murid SD, meskipun penilaiannya tidak menggunakan norma Cooper, tetapi menggunakan Norma Patokan Prosentase yang dicapai oleh semua murid yang melakukan tes daya tahan tersebut. Untuk mengetahui kemampuan kerja fisik seorang orang dilakukan tes atau mengukur waktu tempuh dua macam yaitu:
a.      Tes jalan cepat 4.800 m
1)      Sarana dan prasarana:
a)      Lintasan jalan datar dengan jarak 4800 m
b)      Stopwatch
2)      Pelaksanaannya:
a)         Sebaiknya dilaksanakan pagi hari sebelum jam 10.00
b)      Peserta harus berjalan cepat, tetapi tidak boleh lari
c)      Peserta tidak diperkenankan berhenti atau istirahat untuk makan atau minum
d)     Peserta memakai nomor start di dada dan punggungnya
e)      Rombongan peserta diberangkatkan bersama-sama dari belakang garis start
f)       Peserta berjalan cepat menuju ke garis finish dan setiap peserta yang masuk ke garis finish dicatat waktu tempuhnya oleh petugas yang telah ditunjuk.
Hasil klarifikasi kesegaran jasmani dari seseorang dicocokkan dengan tabel seperti yang tercantum berikut ini, sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Bilamana tidak dapat menyelesaikan tes tersebut, berarti tes dinyatakan gagal dan diulangi bila yang bersangkutan telah mampu untuk melaksanakan.
Keterangan:
>    : lebih besar dari
<    : kurang dari
Thn            : tahun
Mnt: menit
Dtk            : detik
Tes dilakukan dengan jalan cepat (tidak boleh lari).

b.      Tes lari 1.600 m
1)      Sarana dan prasarana:
a)      Lintasan jalan datar dengan jarak 1.600 m
b)      Stopwatch
c)      Alat tulis menulis
d)     Nomor start
2)      Pelaksanaan:
a)      Sebaiknya tes dilakukan pada pagi hari sebelum jam 10.00
b)      Peserta dianjurkan lari secepat mungkin sesuai kemampuannya
c)      Peserta tidak boleh istirahat untuk makan dan minum selama pelaksanaan tes.
d)     Pemberangkatan dilakukan dengan start masal dari belakang garis start
e)      Setiap peserta mengenakan nomor start di dada dan punggungnya.
Norma Penilaian Tes Lari 1,6 Km
Keterangan:
>   : lebih besar dari
<   : kurang dari
Thn : tahun
Mnt : menit
Dtk  : detik

Hasil yang dicapai oleh setiap peserta dicatat oleh pencatat waktu adalah sebagai hasil kemampuan daya tahan peserta yang dicocokkan dengan tabel norma penilaian seperti yang tercantum berikut ini, sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Bilamana seorang murid tidak sampai ke garis finish, berarti tes tersebut gagal. Namun demikian guru perlu memberikan motivasi untuk berlatih lagi agar dia dapat mencapai garis finish. Hal yang terpenting dalam kegiatan tes daya tahan ini dapat digunakan sebagai alat bagi guru untuk memberikan motivasi kepada para murid SD melakukan kegiatan lari, meskipun santai, lama kelamaan dapat dianjurkan untuk lebih mempercepat waktu tempuhnya.

4.      Tes kecepatan
Kekuatan otot erat hubungan dengan kecepatan, karena dengan kekuatan otot yang sudah siap, damak dapat melakukan kontraksi secara cepat dan melakukan kerja cepat. Unsur kecepatan otot ini sangat dibutuhkan oleh setiap cabang olahraga, karena kecepatan otot tersebut dapat menentukan kemenangan.
Jenis tes yang digunakan  untuk kecepatan ini antara lain:
a.       Lari cepat dari jarak 40 m sampai 100 m sesuai dengan usia anak
b.      Kecepatan memukul bola atau smash
c.       Kecepatan melempar bola
Hasilnya dengan waktu tempuh dari gerakan awal sampai pada akhir gerakan.

5.      Tes kelentukan otot
Sebagai salah satu dasar kecakapan gerak motorik adalah fleksibilitas atau kelentukan. Gerak ini dilakukan oleh murid dengan gerak maksimal yaitu  rentangan dari persendian secara maksimal. Fleksibilitas ini dapat diukur dengan mengukur rentangan atau kemampuan jangkauan dari persendian dengan menggunakan ukuran yang mungkin dapat dibuat sendiri. Misalnya untuk mengukur kelentukan punggung yaitu dengan membungkuk maksimal tanpa menekuk lutut. Kemampuan melakukan “splits” (kangkang) sampai rata dengan lantai. Jarak yang diukur adalah kemampuan maksimal gerak membungkuk dan jarak splits dari lantai.

6.      Tes keseimbangan
Keseimbangan ini merupakan aspek yang penting dalam kehidupan sehari-hari mengingat bahwa keseimbangan tersebut mengatur kita berjalan, tegak berdiri tanpa jatuh serta menentukan arah tujuan gerak yang kita lakukan. Keseimbangan dalam olahraga merupakan dasar dari gerak performance dan kemampuan melakukan gerak (motor ability). Hal ini yang mengatur tentang kelincahan gerak seorang atlet dan gerak koordinasi pada setiap gerak dari cabang olahraga. Untuk mengetahui tentang kemampuan keseimbangan seseorang murid dilakukan tes meniti pada balok titian mulai dari yang lebar penampangnya sampai pada yang paling kecil tanpa jatuh dan waktu tertentu. Terutama untuk gerak dalam olahraga senam sangat banyak dibutuhkan kemampuan keseimbangan dari murid untuk dapat melakukan keterampilan dalam senam.


7.      Tes koordinasi
Untuk melakukan gerakan-gerakan yang rumit diperlukan koordinasi. Jadi koordinasi merupakan unsur gerak yang dibutuhkan oleh setiap manusia untuk melakukan gerakan cabang olahraga. Lebih rumit suatu gerakan, lebih sulit bagi seseorang menggunakan koordinasi dalam otak pengendaliannya. Untuk mengetahui tentang kemampuan koordinasi gerak dari setiap murid, diberikan tes gerak meniru yang diberikan oleh guru, atau gerak mengubah arah dengan cepat dan squart thrust (gerak kombinasi) berdiri jongkok lempar kedua kaki ke belakang – jongkok – berdiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar