Jumat, 24 Februari 2012

Pembelajaran Pencak Silat


A.    Peranan Beladiri Pencak Silat Terhadap Kebugaran Jasmani
  1. Hakikat Beladiri Pencak Silat
Unsur-unsur budaya bernilai luhur yang hidup di kalangan seluruh unsur bangsa Indonesia, inti-intinya yang telah membaur telah digali, diangkat dan dirumuskan menjadi satu falsafah ideologi seluruh bangsa Indonesia, yakni Pancasila (PB. IPSI, 1986). Dengan demikian, seluruh unsur  budaya bangsa Indonesia yang bernilai luhur, termasuk Pencak silat, merupakan bentuk penjabaran falsafah  dan ideologi Pancasila.
Pencak Silat sebagai hasil krida budi atau karya pengolahan akal, kehendak dan rasa yang dilandasi kesadaran akan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, terdiri dari aspek yang merupakan satu kesatuan utuh dan bulat, yakni aspek mental spiritual, beladiri, seni dan olahraga. Keempat aspek tersebut baik masing-masing maupun sebagai kesatuan mengandung materi pendidikan yang menyangkut sifat dan sikap ideal, yakni sifat dan sikap yang menjadi idaman  bagi hidup pribadi, hidup di masyarakat dan hidup beragama.

  1. Ciri-Ciri Beladiri Pencak Silat
Manusia sebagai makhluk hidup bermasyarakat, mempunyai kebutuhan naluriah untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan diri maupun masyarakatnya. Sejalan dengan perkembangan budaya manusia terdapat anggota masyarakat yang secara khusus  memikirkan cara-cara terbaik sebagai suatu keterampilan dalam menjamin keamanan dan kesejahteraan. Keterampilan  itu kemudian  dipraktekkan sebagai eksperimen yang secara terus menerus diperbaiki dan disempurnakan dan akhirnya menjadi cara pembelaan diri bagi suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia seni bela diri dengan nama Pencak Silat.
Istilah Pencak Silat sebagai seni bela diri bangsa Indonesia, merupakan kata majemuk dari hasil keputusan seminar Pencak Silat tahun 1973 di Tugu Bogor. Sedangkan definisi Pencak Silat selengkapnya dibuat oleh Pengurus Besar IPSI bersama BAKIN pada tahun 1975, sebagai berikut : Pencak Silat adalah hasil budaya Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian dan integritas manunggalnya) terhadap lingkungan/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna peningkatan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sifat khusus Pencak Silat Indonesia, sebagai berikut :
a.       Ciri-ciri umum Pencak Silat Indonesia :
1)      Pencak Silat mempergunakan seluruh bagian tubuh dan anggota badan dari kuku pada ujung jari kaki atau tangan sampai dengan rambut (terutama wanita) untuk membela diri.
2)      Pencak Silat dilakukan dengan tangan kosong atau dengan senjata.
3)      Pencak Silat tidak memerlukan senjata tertentu, benda apapun dapat dijadikan senjata (kayu, batu, pasir, payung, sapu tangan, tas, tusuk konde, sandal, selendang dan  sebagainya).
4)      Pencak Silat lahir dan tumbuh serasi dengan alam: alam sekitarnya, alat istimewa, adab sopan santunnya, temperamennya/watak dan kepribadian suku bangsanya, agama atau kepercayaan dan kebatinannya.

b.      Ciri-ciri khusus Pencak Silat
1)      Sikap tenang, lemas (rileks) dan waspada.
2)      Mempergunakan kelincahan, kelentukan, kecepatan, saat (timing) dan sasaran yang tepat disertai gerak refleks untuk mengatasi lawan bukan mengandalkan kekuatan tenaga.
3)      Mempergunakan prinsip (timbang badan), permainan posisi dengan perubahan pemindahan titik berat badan.
4)      Memanfaatkan setiap serangan dan tenaga lawan.
5)      Menghemat menyimpan tenaga mengeluarkan tenaga sedikit mungkin (ekonomis).

  1. Tujuan Pencak Silat
Pencak  Silat mengandung empat aspek. Tiap-tiap aspek Pencak Silat menggambarkan tujuan, satu sama lain merupakan satu kesatuan. Keempat aspek tersebut yang mendasari pengembangan Pencak Silat menjadi 4 tujuan, yakni : (1) Pencak Silat pendidikan mental-spiritual, (2) Pencak Silat bela diri, (3) Pencak Silat seni, (4) Pencak Silat olahraga.
a.       Pengembangan Pendidikan Mental Spiritual
Pencak Silat juga merupakan suatu sarana yang ampuh untuk pembinaan mental spiritual, terutama untuk mewujudkan budi pekerti yang luhur. Pencak Silat telah menunjukkan jati dirinya  dan telah terbukti membentuk karakter dan kepribadian yang kokoh bagi para pengikutnya. Tidak hanya pembinaan terhadap aspek olahraganya, seni dan bela diri semata-mata, melainkan  dapat mengembangkan watak luhur, sikap kesatria, percaya diri sendiri dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Sentuhan pencak silat yang dilaksanakan dalam dunia pendidikan yang dimulai dari tingkat dasar akan sangat  membantu pembentukan kader bangsa yang berjiwa patriotik, berkpribadian luhur, disiplin dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan tugas ini berada dipundak para guru pada umumnya , khususnya guru Pendidikan Jasmani.
Seorang pesilat harus mampu menjaga, melestarikan dan mengembangkan  nilai-nilai dasar seperti ketekunan, kesabaran,  kejujuran, kepahlawanan, kepatuhan dan kesetiaan, dan memberikan landasan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan kepada warga masyarakat. Hal ini juga tercermin dari tradisi yang dilakukan oleh perguruan silat seperti upacara Talek (patalekan) dan upacara pengucapan janji dari seorang calon murid yang akan berguru di suatu perguruan.
Bela diri Pencak Silat bertujuan untuk mengembangkan aspek akhlak rohani (pendidikan mental spiritual).
1)      Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur. Hal ini berarti kewajiban untuk:
a)      Beriman teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melaksanakan ajaran-ajaran-Nya, yakni melaksanakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya.
b)      Menghormati orang tua, orang yang lebih tua, guru, kakak seperguruan, keinginan, harapan dan kepentingan.
c)      Berprilaku sopan santun dalam pergaulan sosial sesuai dengan tata susila yang berlaku.

2)      Tenggang rasa, percaya diri sendiri dan berdisiplin, hal ini berarti kewajiban untuk :
a)      Tidak bertindak sewenang-wenang terhadap sesama manusia.
b)      Mencintai dan suka menolong sesama manusia. 
c)      Berani dan tabah menghadapi segala bentuk tantangan hidup.
d)     Sanggup berusaha dengan tidak kenal menyerah di dalam mencapai hal-hal positif yang menjadi idaman dan cita-cita.
e)      Patuh dan taat kepada norma-norma yang mengatur kehidupan pribadi maupun sosial.

3)      Cinta bangsa dan  tanah air, hal ini berarti  kewajiban untuk :
a)      Memandang seluruh bangsa dan wilayah tanah air dengan kekayaan dan atribut sebagai satu kesatuan.
b)      Merasa bangga sebagai bangsa dan mempunyai tanah air Indonesia sendiri serta berusaha untuk mengembangkannya.
c)      Mencintai budaya dan bangsa sendiri serta berusaha untuk mengembangkannya.
d)     Menyelamatkan keutuhan/persatuan, kepribadian, kelangsungan hidup dan pembangunan   bangsa   yang   berdasarkan   pada  Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

4)      Persaudaraan, pengendalian diri dan tanggung jawab sosial:
a)      Menjamin kerukunan, keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup bermasyarakat.
b)      Mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul secara musyawarah dengan semangat kekeluargaan.
c)      Bergotong royong di dalam mewujudkan hal-hal yang merupakan kepentingan sendiri maupun golongan.
d)     Menempatkan kepentingan masyarakat/umum di atas kepentingan sendiri maupun golongan.

5)      Solidaritas sosial, mengejar kemampuan serta membela kejujuran, kebenaran dan keadilan. Hal ini berarti mewajibkan untuk :
a)      Memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan keadaan kehidupan dilingkungan sosial.
b)      Selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas diri sebagai sarana untuk memperoleh kemajuan.
c)      Berani mencegah dan memberantas kemunafikan, kepalsuan dan keserakahan dengan cara-cara yang baik.
d)     Melaksanakan pengabdian untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Keseluruhan materi aspek  akhlak/rohani ini merupakan landasan bagi aspek-aspek lainnya.
b.      Pengembangan Aspek Bela Diri
Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dengan karateristik biologis, sosial dan kebudayaan yang berbeda, namun mereka memiliki tradisi mempelajari Pencak Silat sebagai alat membela diri ancaman alam, binatang maupun manusia. Pencak Silat bela diri merupakan cikal bakal dari aspek pencak silat lainnya.
Pencak Silat bela diri bertujuan untuk mengembangkan aspek bela diri, yaitu terampil dalam gerak efektif untuk menjamin kesempatan/kesiapsiagaan fisik dan mental yang dilandasi sikap kesatria, tanggap dan mengendalikan diri. Hal ini berarti adanya kewajiban untuk :
1)      Berani  menegakkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
2)      Tahan uji dan tabah didalam menhadapi cobaan dan godaan.
3)      Tangguh/ulet dan dapat mengembangkan kemampuan di dalam melakukan usaha.
4)      Tanggap, peka, cermat dan tepat di dalam menelaah permasalahan yang dihadapi maupun dalam megatasinya.
5)      Selalu melaksanakan “ilmu padi” dan menjauhkan diri  dari sikap dan prilaku sombong atau takabur.
6)      Menggunakan keterampilan gerak efektifnya dalam perkelahian hanya karena keadaan terpaksa untuk keselamatan diri dan harga diri menurut ukuran objektif serta keselamatan bangsa dan Negara.
Pencak Silat sebagai bela diri mempunyai ciri-ciri umum mempergunakan seluruh bagian tubuh dan anggota badan dari ujung jari tangan dan kaki sampai kepala bahkan rambutnya dapat digunakan sebagai alat pembelaan diri, dapat dilakukan dengan tangan kosong atau menggunakan senjata, akan tetapi tidak dapat terikat pada penggunaan senjata tertentu, benda apapun dapat dijadikan senjata.
Pencak Silat mempunyai pandangan bahwa kita boleh mempunyai lawan, akan tetapi jangan  mempunyai musuh, tidak dibenarkan untuk meyerang lebih dahulu, bahkan harus sedapat-dapatnya menghindari kontak fisik.
c.       Pencak Silat Untuk Pengembangan Seni
Pada dasarnya Pencak Silat dapat juga dikatakan sebagai Pencak silat bela diri yang indah. Pada saat diperlukan, pencak silat seni dapat difungsikan kembali ke asalnya menjadi pencak silat bela diri. Hal tersebut disebabkan  karena pencak silat seni memiliki struktur yang sama dengan pencak silat bela diri. Struktur tersebut meliputi teknik-teknik sikap pasang, gerak langkah, serangan dan belaan sebagai satu kesatuan.
Perbedaan Pencak silat seni terletak pada nilai, orientasi, papakem dan ukuran yang diterapkan pada pelaksanaannya. Pelaksanaan Pencak silat bela diri bernilai teknis, orientasinya efektif, praktis dan taktis. Pepakemnya logika, yakni urutan tentang pelaksanaan sesuatu dengan menggunakan penalaran atau perhitungan  akal sehat ukurannya adalah objektif. Sedangkan Pencak silat seni bernilai estetis. Orientasinya keindahan dalam arti luas, yang meliputi keselarasan dan keserasian. Pepakemnya estetika, yakni disiplin atau aturan tentang pelaksanaan sesuatu secara indah. Ukurann pada estetika adalah subjektif relatif.
Berkaitan dengan nilai estetika tadi, maka Pencak silat seni dapat dievaluasi berdasarkan ketentuan estetika sebagai berikut, yakni “wiraga, wirama dan wirasa” (bahasa jawa) sebagai satu kesatuan. Kata Wi ” mempunyai arti bermutu tinggi bagus dalam arti luas. Wiraga berarti penampilan teknik sikap dan gerak dengan rapi dan tertib. Wirama berarti penampilan teknik dan sikap dengan irama yang serasi, dan jika hal itu diiringi dengan musik, ia bersifat kontekstual. Wirasa berarti penampilan teknik  sikap dan gerak dengan penataan (koreografi) yang menarik.
Bela diri Pencak silat bertujuan juga untuk dapat mengembangkan aspek seni, yaitu terampil dalam gerak yang serasi dan menarik dilandasi rasa cinta kepada budaya bangsa. Hal ini berarti kesadaran untuk :
1)      Mengembangkan Pencak silat sebagai budaya bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur guna memperkuat kepribadian bangsa, mempertebal rasa harga diri dan kebanggaan nasional serta memperkokoh jiwa kesatuan.
2)      Mengembangkan nilai Pencak silat yang diarahkan pada penerapan nilai-nilai kepribadian berlandaskan Pancasila.
3)      Mencegah penonjolan secara sempit nilai-nilai Pencak silat yang bersifat aliran dan kedaerahan.
4)      Menanggulangi pengaruh kebudayaan asing yang negatif.
5)      Mampu menyaring dan menyerap nilai-nilai budaya dari luar yang positif dan memang diperlukan bagi pembaharuan dalam proses pembangunan.
d.      Pencak Silat Untuk Pengembangan Olahraga
Sebetulnya pertandingan Pencak silat sudah jauh hari sebelum diakui secara resmi sebagai cabang olahraga. Di Jawa Timur pertandingan Pencak silat diadakan pada acara pesta gilingan tebu, biasanya dimulai oleh anak-anak muda yang pemula. Caranya naik ke atas pentas berputar dengan melangkah kembangan dengan menunjukkan jari telunjuk dua, yang berarti pertandingan bersifat persahabatan dengan menggunakan cara mengambil kopiah atau selendang lawan. Siapa yang dapat mengambilnya adalah sebagai pemenang. Sayangnya pada waktu itu sulit diterima oleh kalangan pendekar, karena dianggap berbahaya dan bertentangan dengan falsafah Pencak silat.
Di lain pihak, para pendekar dan perguruan secara progresif mengupayakan membentuk Pencak silat sebagai olahraga. Mereka berjuang keras untuk meyakinkan bahwa Pencak silat perlu dikembangkan sebagai ilmu olahraga agar tidak musnah di masyarakat. Alasannya bahwa dengan berakhir masa peperangan, Pencak silat sudah kehilangan peran sebagai sarana bela diri. Dalam upaya mencarikan peran baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, Pencak silat sebagai olahraga yang dapat baik dilombakan  maupun dipertandingkan.
Uji coba pertandingan pertama di adakan antar pendekar-pendekar di Stadion Kalisari, Semarang tahun 1957. Pertandingan ini mengembirakan karena berjalan dengan lancar tanpa adanya kecelakaan. Namun uji coba di tempat lain tidak begitu berhasil, karena peraturan masih sangat longgar dan kontak antar pesilat tidak dibatasi, yang banyak menimbulkan cedera, bahkan sampai mengakibatkan kematian. Selanjutnya Pencak silat hanya dijadikan komoditi demonstrasi di PON ke I di Solo tahun 1948 sampai PON ke VII tahun 1969. Pencak silat untuk pertama kali tampil sebagai cabang olahraga prestasi dan dipertandingkan pada PON VIII.
Pencak silat olahraga bertujuan untuk mengembangkan aspek olahraga, yaitu terampil dalam gerak efektif untuk menjamin kesehatan jasmani dan rohani yang dilandasi hasrat hidup sehat. Hal ini berarti kesadaran untuk:
1)      Berlatih dan melaksanakan olahraga Pencak silat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
2)      Selalu menyempurnakan prestasi jika latihan dan pelaksanaan olahraga tersebut berbentuk pertandingan.
3)      Menjunjung tinggi sportivitas.

B.     Pembentukan Sikap dan Gerak
Dalam Pencak silat kita kenal keterampilan dasar pembentukan sikap, gerak, serangan dan belaan. Pembentukan sikap merupakan dasar dari pembentukan gerak yang meliputi sikap jasmani dan rohani. Sikap jasmaniah adalah kesiapan fisik atau tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan teknik dan taktik yang baik, sedangkan sikap rohaniah  adalah kesiapan mental dan pikiran untuk melakukan tujuan dengan waspada, konsentrasi, siaga praktis dan efisien dalam mengaktualisasikan  gerakan. Pembentukan sikap terdiri dari sikap berdiri, sikap duduk, sikap baring, sikap khusus dan sikap pasang.
Sebelum membicarakan sikap dan gerak pencak silat lebih lanjut, maka diberikan terlebih dahulu permainan dalam pencak silat yang sifatnya untuk merangsang anak tidak takut dan bergairah dalam melakukan latihan pembentukan sikap dan gerak dasar. Permainan yang dimaksud sebagai berikut :
1.      Permainan kupu-kupu terbang kian kemari
Permainan ini menggambarkan dari posisi sikap brdiri, sikap salam, sikap memusatkan diri dalam pencak silat, caranya sebagai berikut :
a.       Anak-anak lari bertebaran bebas kesana kemari
b.      Anak-anak merentangkan tangan ke atas sambil berputar-putar ke kiri atau ke kanan dengan kedua kaki jinjit
c.       Kedua tangan dirapatkan diatas kepala
d.      Seperti sikap poin c, terus tangan  diturunkan ke depan dada seraya kepala ditundukkan seolah-olah seperti kupu-kupu yang hingap pada bunga dan menghisap madunya
e.       Gerakan tersebut diatas dilakukan berulang-ulang

2.      Permainan kereta dorong
Permainan ini untuk melatih kekuatan otot tangan  untuk gerakan pukulan secara keseluruhan, caranya sebagai berikut :
a.       Siswa berpasangan dimana satu berdiri tegak posisi kangkang (A Memegang kedua kaki teman pasangannya B).
b.      B dalam posisi merangkak menghadap ke depan dan kedua kakinya dipegang oleh kawannya yang berdiri (A).
c.       Gerakan : A mendorong B maju sampai batas yang telah ditentukan misalnya 5 meter. Selanjutnya dilakukan secara bergantian.
d.      Posisi berpasangan seperti poin a, selanjutnya berlomba mendorong sampai batas yang ditentukan (8 meter)
e.       Posisi seperti poin b, kemudian kedua kelompok pasangan saling berhadapan. Selanjut saling berusaha merobohkan dengan cara mengait atau menarik tangan lawanya. Bagi yang terjatuh dinyatakan kalah.
3.      Permainan putri berhias
Permainan ini untuk melatih pukulan dan tangkisan serta pola langkah yang baik, caranya sebagai berikut :
a.       Langkah kaki kiri ke depan disertai dengan tangkisan depan seolah-olah putri sedang memegang cermin
b.      Tangan kanan melakukan pukulan pedang samping diteruskan ke belakang seolah-olah putri mengambil sisir dan menyisir rambutnya
c.       Maju kaki kanan diikuti dengann pukulan ke arah pelipis seolah-olah putri mengibaskan selendangnya
d.      Kaki kiri silang maju dengan kaki semblewah seolah-olah putri sedang berfose
e.       Gerakan diatas dilakukan  secara terus menerus, sampai gerakan Anak baik dan benar.

1.      Pembentukan Sikap
            Manusia bergerak adalah hal biasa. Tetapi bergerak dalam aktivitas Pencak silat bukan hal yang sederhana dan biasa. Untuk dapat melaksanakan gerak Pencak silat dengan baik dan benar, diperlukan latihan  secara sungguh-sungguh, intensif dan berkesinambungan. Hal ini disebabkan karena Pencak silat merupakan variasi sikap sikap dan gerak yang  disusun dan diatur dalam suatu sistem. Pencak silat sebagai sistem sikap dan gerak yang terencana, terorganisasi, terarah, terkoordinasi dan terkendali, mempunyai 4 aspek sebagai satu kesatuan yaitu aspek mental spiritual, aspek bela diri, aspek seni dan aspek olahraga.
            Dengan demikian Pencak silat jika dilihat dari masing-masing aspeknya dapat digambarkan sebagai :
a.       Falsafah moral dan etika bagi kehidupan ideal, yang ditegakkan dengan membina kemahiran bela diri, kecintaan pada seni, kegemaran pada olahraga.
b.      Kemahiran bela diri yang bermoral dan beretika serta mengandung unsur-unsur seni dan unsur-unsur olahraga.
c.       Kegiatan seni yang bermoral dan beretika serta mengandung unsur-unsur beladiri dan unsur-unsur olahraga.
d.      Kegiatan olahraga yang bermoral dan beretika serta mengandung unsur-unsur seni.
Sikap dan gerak akan mempengaruhi bentuk-bentuk pembelaan dan serangan. Dalam Pencak silat dikenal istilah jurus. Jurus adalah dasar Pencak silat yang merupakan senjata anatomi tubuh untuk mempertahankan diri dan balas serangan. Antara penyerang dan yang mempertahankan  saling menggunakan jurus-jurusnya. Sikap dan gerak itu nanti mempengaruhi juga posisi. Bila posisi atau kedudukan sikap kita baik, mudah untuk memusnahkan serangan lawan dengan jurus-jurus yang kita kehendaki. Sebaliknya bila pada posisi atau kedudukan kita kurang baik, sukar untuk melaksanakan  gerakan dengan baik. Bila kita mempunyai posisi yang baik akan lebih menguntungkan, lebih banyak kemungkinan melindungi bagian yang lemah dari tubuh kita sendiri, dan dapat membalas menyerang bagian-bagian yang lemah dari lawan.
Sebaliknya pada posisi lemah atau kurang baik, kita mudah diserang bagian-bagian lemah kita, sehingga posisi kita rusak, sikap dan gerak kita kacau dan kurang terkontrol. Pencak silat yang baik selalu berupaya agar pihak lawan selalu berada dalam posisi kedudukan yang tidak baik, misalnya kaki, ungkitan terhadap lawan dan sebagainya. Sikap dan gerak sebagai dasar Pencak silat harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

2.      Sikap Dasar Pencak Silat
            Pembentukan sikap merupakan  dasar dari pembentukan gerak yang meliputi sikap jasmaniah dan rohaniah. Sikap jasmaniah, ialah kesiapan fisik tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan dengan kemahiran teknik yang baik, sikap rohaniah ialah kesiapan mental dan pikiran untuk melakukan tujuan dengan waspada, siaga, praktis dan efisien.

a.       Sikap berdiri
Sikap berdiri pada pencak silat garis besarnya ada 3 sikap, antara lain sikap berdiri tegak, sikap berdiri kangkang dan sikap berdiri kuda-kuda.
1)      Sikap berdiri tegak
a)      Badan tegak lurus, pandangan ke depan, bahu, dada, perut wajar, rileks.
b)      Tumit rapat, telapak kaki membuat sudut 90 derajat.
c)      Berat badan pada kedua kaki.
d)     Bernapas wajar, melalui hidung.
e)      Sikap berdiri tegak sesuai dengan sikap kedua tangan dapat dibedakan menjadi 4 (empat) sikap tegak:
-          Sikap tegak 1, kedua lengan dan tangan lurus di samping.
-          Sikap tegak 2, kedua tangan mengepal berada di pinggang.
-          Sikap tegak 3, kedua tangan mengapal di dada.
-          Sikap tegak 4, kedua tangan silang di dada.

b.      Sikap salam , berdoa/memusatkan diri
Merentangkan kedua tangan keatas, pandangan keatas menjelang sikap berdoa rapatkan kedua telapak tangan diatas kepala turunkan didepan dada, tundukkan kepala dilanjutkan sikap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sikap berdoa juga bisa dengan mengambil Sikap Tegak 1 tundukkan kepala kebawah
Keterangan :
Dari Sikap Tegak 1, kemudian telapak tangan  merapat di depan dada disertai dengan anggupan kepala, kemudian kembali ke Sikap Tegak 1 lagi.Sikap menghormat dilakukan pada waktu setiap awal dan akhir pelajaran/latihan kepada guru pelatih, memberi salam kepada teman dan memakai serta mengakhiri permainan/pertandingan.
c.       Sikap berdiri kangkang
Sikap berdiri kangkang adalah sikap dasar untuk melangkah dan kuda-kuda. Titik pertemuan garis-garis sikap menunjukan titik berat badan, agar kedua kaki sama simetris. Cara mengambil sikap dengan merentangkan kaki kiri ke kiri, atau merentangkan kaki kanan ke kanan, atau loncatan kecil merentangkan kedua kaki langsung membentuk sikap kangkang.

d.      Sikap berdiri kuda-kuda
Kuda adalah sikap kaki tertentu, sebagai dasar tumpuan untuk melakukan sikap dan gerakan bela serang. Masalah posisi dalam pencak silat pada hakekatnya sebagian besar adalah masalah kuda-kuda. Banyak ragam bentuk kuda-kuda, setiap kedudukan kaki dinamai kuda-kuda. Pada waktu melakukan kuda-kuda keseimbangan badan penting sekali, karena bila keseimbangan badan tidak benar, akan mudah jatuh, lebih-lebih bila yang menyerang itu melakukan dengan tenaga yang kuat.
Perlu kita ketahui adanya dua macam keseimbangan badan yaitu keseimbangan badan dalam keadaan berhenti dan dalam keadaan bergerak. Pada keseimbangan badan yang bergerak itu tidaklah mungkin, dan tidaklah tepat apabila kedudukan kaki dilaksanakan sekuat-kuatnya, karena tidak akan mampu atau sukar melakukan gerak yang efektif.
Dalam sikap kuda-kuda, badan dalam keadaan seimbang, tetapi dapat mudah bergerak. Hal ini berkaitan dengan  kepentingan bagi posisi kita baik dalam keadaan berhenti, maupun dalam kita bergerak.
Sikap berdiri kuda-kuda terdiri dari :
1)      Kuda-kuda depan
            Untuk melatih kuda-kuda depan, dimulai dari berdiri di tengah-tengah titik 0. Bergerak kaki kiri dulu atau kanan, berat badan dilimpahkan  pada arah depan, jadi titik berat badan berada pada kaki depan.

2)      Kuda-kuda belakang
            Berat badan kuda-kuda belakang dilimpahkan pada kaki belakang. Tumit yang dipakai  tumpuan segaris tegak dengan panggul kita. Badan jangan condong ke belakang atau ke depan, demikian juga jangan miring kiri atau ke kanan kaki depan memapak tumit atau ujung kaki saja. Kuda-kuda belakang banyak terpakai, yaitu dipakai untuk mengelak, menghindar. Selain untuk mengelak terhadap serangan lawan, kuda-kuda belakang juga berguna untuk menyerang.
3)      Kuda-kuda tengah
            Kuda-kuda tengah adalah kuda-kuda yang kuat, banyak dilakukan pada serangan atau tangkisan yang agak rendah. Pada kuda-kuda tengah keseimbangan badan ada di tengah-tengah. Dari pinggang sampai sampai kepala harus lurus dan tegak. Pandangan ke depan, kedua lutut segaris tegak lurus dengan ibu jari kaki kiri dan kaki kanan.
4)      Kuda-kuda samping
            Dari titik 0 kaki kiri menggeser ke samping kiri. Berat badan pada kaki kiri, bahu kanan sejajar/segaris dengan kaki. Kuda-kuda ini banyak dipakai untuk mengelak serangan, menghilangkan bidang sasaran serta untuk masuk menyergap lawan memotong langkah lawan.
5)      Kuda-kuda silang
Kuda-kuda silang dapat dilaksanakan yaitu silang depan dan silang belakang. Berat badan dilimpahkan pada satu kaki, kaki yang lain ringan sentuhan dengan ibu jari/ujung jari kaki. Di daerah berpasir atau berlumpur, ujung jari atau punggung kaki dapat mengambil sikap menyerok. Pada sikap silang depan, kaki yang ringan siap untuk menendang/menjejak, tetapi lincah berpindah arah untuk menghilangkan serangan. Pada sikap silang belakang kaki yang dipakai tumpuan dapat untuk meyerang. Posisi ini sekali-kali menipu lawan, kaki yang satunya dapat berubah tempat

e.       Sikap istirahat
Dengan merentangkan kaki kiri ke samping, pergelangan tangan kiri dipegang tangan kanan, ibu jari melingkar. Dari sikap istirahat ke Sikap Tegak 1, kaki kiri dirapatkan ke kaki kanan. Sikap istirahat ini dilakukan pada waktu mendengarkan petunjuk atau petuah guru. Konsentrasi dan indera dipasang baik-baik.
f.       Sikap jongkok
Sikap jongkok ada dua macam, jongkok dan jengkeng. Sikap jongkok disini bukan jongkok biasa, tetapi mencangkung, pantat duduk pada ujung kedua tumit. Pinggang, punggung, leher dan kepala tegak lurus pandangan mata ke depan. Keseimbangan tetap dijaga dengan baik. Kedua telapak tangan letakkan di kedua lutut masing-masing tetapi tetap dijaga kewaspadaan dan keseimbangan. Jari-jari kaki juga otot-otot bahu tungkai bawah dan sendi lutut ditambah sendi bahu. Untuk putri kedua kaki agak merapat, demikian juga sikap jengkeng.

g.      Sikap duduk
Sikap duduk meliputi sikap duduk pada umumnya, dan sikap duduk sebagai dasar permainan bawah. Untuk sikap duduk, yaitu; duduk, sila, simpuh, sempok/depok dan trapsila/mengorak sila.
h.      Sikap berbaring
Sikap berbaring mempunyai fungsi untuk dasar menjatuhkan diri dan sikap pembelaan, seorang pesilat tidak boleh jatuh, tetapi kalau jatuh apakah jatuhnya terlentang, miring atau telungkup, harus benar-benar jatuhnya tidak apa-apa, masih dalam sikap pembelaan. Pada jatuh telungkup mendarat kedua tangan dahulu, jangan muka dulu, hati-hati dada, otot-otot lengan, tangan bahu harus kuat. Sikap berbaring terdiri dari sikap terlentang, sikap miring dan sikap telungkup
i.        Sikap khusus
Sikap khusus yang penting adalah tegak satu kaki. Sikap tegak satu kaki ini merupakan dasar melatih keseimbangan yang perlu untuk gerak pembelaan maupun serangan. Sikap khusus antara lain; sikap tegak satu kaki, sikap rimau/merangkak, sikap monyet, sikap naga dan sebagainya.
j.        Sikap pasang
Pengertian sikap pasang adalah suatu sikap siaga untuk melakukan pembelaan atau serangan yang berpola dan dilakukan pada awal serta akhir dari rangkaian gerak. Sikap pasang mempunyai unsur-unsur : sikap kuda-kuda, sikap tubuh, sikap lengan dan tangan. Ditinjau dari tinggi rendahnya sikap tubuh, maka sikap pasang dapat dibagi 3, yaitu : pasang atas, pasang tengah dan pasang bawah. Pasang atas dan pasang tengah menggunakan kuda-kuda atau sikap kaki sebagai berikut : kuda-kuda depan, kuda-kuda belakang, kuda-kuda silang (depan dan belakang), dan sikap khusus lainnya atau menirukan binatang, kuda-kuda samping.
k.      Pembentukan Gerak
Dalam kegiatan belajar ini mengkaji pembentukan gerak pencak silat yang meliputi arah, cara, pola langkah. Pembentukan gerak langkah ini akan mendasari koordinasi serangan dan belaan. Jika pembentukan langkah kurang dikuasai dengan baik, maka dalam mempelajari koordinasi serang bela akan kurang baik hasilnya. Dengan menguasai kegiatan belajar ini, siswa dapat melanjutkan pada kegiatan belajar lainnya. Dari kajian materi dalam kegiatan belajar ini diharapkan siswa mampu memahami, memperagakan dan mengapresiasi keterampilan pembentukan gerak dalam Pencak silat.
3.      Gerak Langkah
            Gerak langkah adalah teknik perpindahan atau mengubah posisi disertai kewaspadaan mental dan indera secara optimal untuk mendapatkan posisi yang menguntungkan dalam rangka mendekati atau menjauhi lawan untuk kepentingan serangan dan belaan. Dalam pelaksanaannya selalu dikombinasikan  dengan sikap tubuh dan sikap tangan. Gerak langkah meliputi :
a.       Ke belakang
b.      Ke serong kiri belakang
c.       Ke kiri
d.      Ke serong kiri depan
e.       Ke depan
f.       Ke serong kanan depan
g.      Ke kanan
h.      Ke serong kanan belakang.
            Untuk lebih jelasnya 8 Arah Penjuru Mata Angin, disajikan pada gambar berikut:
Cara pelaksanaannya meliputi :
a.       Angkatan,
b.      Geseran,
c.       Ingsutan (seseran),
d.      Puratan,
e.       Lompatan, dan
f.       Loncatan

                                          Pola langkah meliputi :
a.       Lurus,
b.      Zig zag (gergaji),
c.       Segi tiga,
d.      Ladam (tapal kuda),
e.       Segi empat, dan
f.       Huruf S.
4.      Serangan
            Serangan merupakan sikap membela diri dengan lengan atau tungkai untuk mengenai sasaran pada lawan. Dilihat secara anggota badan yang digunakan, serangan dibedakan menjadi dua, yaitu serangan lengan dan serangan tungkai. Untuk serangan lengan meliputi serangan siku dan serangan tangan, sedangkan serangan tungkai meliputi serangan lutut dan serangan kaki.
            Serangan diartikan sebagai usaha pembelaan dengan menggunakan lengan/tangan atau tungkai/kaki untuk mengenai sasaran tertentu pada tubuh lawan. Pada pengertian pencak silat sebagai bela diri, semua anggota badan dari ujung rambut sampai ujung kaki dapat dipergunakan sebagai alat untuk menyerang lawan, tetapi pada pengertian pencak silat olahraga, serangan dibagi berdasarkan anggota badan yang digunakan sebagai alat menyerang, yaitu serangan lengan yang lazim disebut pukulan dan serangan tungkai yang lazim disebut tendangan. Selain kedua bentuk serangan tersebut, terdapat beberapa jenis serangan yang menggunakan bagian lengan dan tungkai, yaitu serangan sikuan, lutut, sapuan, kaitan dan guntingan.
            Unsur-unsur yang perlu diperhatikan  dalam teknik serangan, diantaranya sikap tangan dan kaki sebagai alat serang, sikap tubuh untuk mengontrol titik berat badan, dan sikap kuda-kuda yang pada umumnya kuda-kuda ringan. Ketiga unsur tersebut sebagai bahan acuan sah tidaknya mendapatkan poin dalam pertandingan atau perlombaan pencak silat.    Serangan memiliki lintasan dan bentuk yang merupakan ciri untuk membedakan serangan satu berbeda dengan yang lain. Berdasarkan penggunaan anggota badan    yang dipergunakan untuk menyerang lawan, serangan dibedakan menjadi dua, yaitu serangan lengan dan serangan tungkai.

a.      Teknik Serangan Lengan
Serangan lengan dibedakan berdasarkan perkenaannya menjadi dua, yaitu serangan tangan dan siku.
1)      Serangan tangan
            Berdasarkan arah lintasannya, serangan tangan dapat dilakukan dari arah depan, bawah, atas dan samping.
2)      Serangan tangan dari depan meliputi :
a)      Tebak, pukulan dengan telapak tangan
b)      Tinju, pukulan dengan kepalan tangan
c)      Dorong, pukulan dengan kedua telapak tangan
d)     Sodok, pukulan dengan ujung-ujung jari tangan
e)      Bandul,  pukulan dengan ayunan kepalan tangan
3)      Serangan tangan dari arah bawah meliputi :
a)      Bandul/catok, pukulan dengan mengayun kepalan tangan
b)      Sanggah, pukulan dengan pangkal telapak tangan
c)      Colok/tusuk, pukulan dengan ujung jari tangan
4)      Serangan tangan dari arah atas meliputi :
a)      Tumbuk, pukulan dengan kepalan tangan
b)      Pedang, pukulan dengan sisi telapak tangan
c)      Tebak, pukulan dengan telapak tangan
5)      Serangan tangan dari arah samping meliputi :
a)      Pedang, pukulan dengan sisi telapak tangan
b)      Tampar, pukulan dengan telapak tangan
c)      Bandul, pukulan dengan kepalan tangan
d)     Kepret, pukulan dengan punggung tangan.
b.      Serangan Siku
Serangan siku dapat dibedakan berdasarkan arah lintasannya meliputi :
1)      Siku depan,
2)      Siku serong,
3)      Siku belakang, dan
4)      Siku bawah.
c.       Teknik Serangan Tungkai
Berdasarkan   jarak   dan posisi sasaran lawan, serangan tungkai dibagi menjadi 2, yaitu serangan kaki yang lazim disebut tendangan dan serangan lutut yang lazim disebut lututan.
1)      Serangan kaki
            Dilihat dari bagian kaki yang mengenai sasaran dan arah lintasannya, tendangan dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :
a)      Tendangan depan, yaitu dengan menggunakan pangkal jari kaki
b)      Tendangan samping, yaitu dengan sisi telapak kaki
c)      Tendangan busur, yaitu dengan pangkal jari/punggung kaki
d)     Tendangan belakang, yaitu dengan tumit kaki.
2)      Serangan lutut
Berdasarkan arah lintasan serangnya, serangan lutut dibedakanmenjadi 2 bentuk, yaitu :
a)      Serangan lutut bawah, yaitu lintasannya dari bawah ke atas.
b)      Serangan lutut samping, yaitu serangannya dari samping.
C.  Belaan
Belaan merupakan usaha membela diri dari serangan lawan, secara teknis belaan dibedakan menjadi tiga, yaitu pembelaan dasar, lanjutan dan pembelaan taktik. Sesuai dengan karateristik pencak silat, sebagai ilmu bela diri, maka usaha membela diri dari serangan lawan merupakan pengertian dari pada pembelaan dalam pencak silat. Pada dasarnya membela adalah mengeluarkan tubuh atau anggota tubuh kita dari arah lintasan serang lawan atau mengalihkan serangan lawan hingga tidak mengenai tubuh/anggota tubuh kita.
Perlu diperhatikan dalam pembelaan adalah bentuk, arah lintasan serangan lawan, posisi dan gerak kita untuk membela, dan bentuk belaan yang sesuai dengan serangan lawan. Posisi tersebut meliputi pasangan, kuda-kuda dan sikap tubuh. Dilihat dari kompleksitas gerakan teknik belaan dibagi tiga, yaitu belaan dasar, lanjutan dan tinggi.

1.      Belaan Dasar
Dilihat dari bentuknya, belaan dasar dibedakan menjadi tiga, yaitu hindaran, elakan dan tangkisan. Perbedaan ketiga bentuk belaan tersebut terletak pada keluarnya tubuh/anggota tubuh dari lintasan serang lawan.
a.       Hindaran
Hindaran adalah memindahkan anggota/tubuh yang menjadi sasaran serangan lawan dengan cara melangkah. Arah langkah yang dituju meliputi 8 penjuru mata angin. Hindaran ke 8 penjuru mata angin dapat dilakukan dengan cara :
1)      Hindar sisi, yaitu menghindar ke samping lawan.
2)      Hindar angkat kaki, yaitu menghindar dengan mengangkat kaki.
3)      Hindar kaki silang, yaitu menghindar dengan menyilangkan kaki.
 b.      Elakan
Elakan adalah membela dengan posisi kaki tidak berpindah tempat atau kembali ke tempat semula. Berdasarkan keluarnya tubuh/anggota tubuh dari serangan lawan, maka elakan dibedakan menjadi empat, yaitu :
1)      Elakan atas, yaitu mengelak dengan meloncat ke atas.
2)      Elakan bawah, yaitu mengelak dengan cara merendahkan diri
3)      Elakan samping, yaitu mengelak dengan cara memindahkan titik berat badan ke samping.
4)      Elakan belakang, yaitu mengelak dengan cara memindahkan titik berat badan ke belakang.
c.       Tangkisan
Tangkisan adalah belaan dengan cara kontak langsung bagian anggota badan dengan serangan. Kontak langsung tersebut bertujuan untuk memindahkan atau membendung serangan lawan. Anggota badan yang dapat dipergunakan untuk menangkis adalah :
1)      Tangkisan lengan
      Tangkisan satu lengan yang meliputi :
a)      Tangkisan dalam, yaitu tangkisan dari luar ke dalam.
b)      Tangkisan luar, yaitu tangkisan dari dalam ke luar.
c)      Tangkisan atas, yaitu tangkisan dari bawah ke atas.
d)     Tangkisan bawah, yaitu tangkisan dari atas ke bawah.
2)      Tangkisan siku
      Tangkisan siku terdiri dari :
a)      Tangkisan siku dalam
b)      Tangkisan siku luar.
3)      Tangkisan dua lengan
      Tangkisan dengan dua lengan terdiri dari :
a)      Tangkisan dua lengan/sejajar dua tangan
b)      Tangkisan dua lengan membelah tinggi atau rendah
c)      Tangkisan dua lengan silang tinggi atau rendah
d)     Tangkisan dua lengan buang samping.

4)      Tangkisan kaki
      Tangkisan kaki terdiri dari :
a)      Tutup samping
b)      Tutup depan
c)      Buang luar
d)     Busur luar/dalam

2.      Belaan lanjutan
            Belaan lanjutan lebih kompleks daripada belaan dasar. Belaan lanjutan bisanya di awali dengan teknik elakan, tangkisan dan terkadang dengan gerak pendahuluan, serta gerakan berangkai. Belaan lanjutan terdiri dari tangkapan, jatuhan, lepasan dan kuncian.
            Untuk mengembangkan dan meningkatkan penyajian pencak silat, siswa atau pesilat perlu memilki perbendaharaan teknik dan taktik sehingga mampu menampilkan teknik yang bervariasi. Kekayaan teknik belaan dan serangan tidak hanya sekedar memukul dan menedang saja, tetapi dapat mengembangkan teknik dan taktik menjatuhkan atau mengunci dan lepasan.
            Pembelaan lanjutan merupakan pencak silat yang mempunyai unsur yang lebih sulit dari elakan dan tangkisan. Pembelaan lanjutan dapat diawali dengan elakan atau tangkisan yang kadang-kadang memerlukan gerak pendahuluan atau gerakan berangkai.
            Pembelaan lanjutan terdiri dari; tangkapan, jatuhan, lepasan dan kuncian. Pada pertandingan pencak silat olahraga, jatuhan yang benar nilainya 3, kuncian yang tidak bisa dilepaskan dalam 5 detik mendapat nilai 5. Tangkapan menjatuhkan  apalagi mengunci merupakan keterampilan  dan pengetahuan yang tinggi. Cara menjatuhkan dan cara mengunci masing-masing ada peratutan atau ketentuannya sehingga dianggap sah mendapat nilai. Ketentuan unsur-unsur teknik yang diperkenankan adalah usaha untuk mencapai prestasi berupa mengenai sasaran, menjatuhkan dan mengunci lawan serta teknik sambut, yaitu memusnahkan serangan lawan dan membuat balasan yang berhasil. Dalam melakukan teknik tersebut harus terpenuhi syarat, arah lintasan yang benar, tidak mematahkan/merusak serta memenuhi ketentuan syarat nilai yang ditetapkan.
a.       Tangkapan
Tangkapan adalah belaan dengan cara menahan lengan atau tungkai dari serangan lawan untuk menjaga serangan berikutnya. Teknik tangkapan merupakan salah satu unsur dari teknik jatuhan atau kuncian. Yang perlu diperhatikan dari teknik tangkapan adalah kuda-kuda dengan keseimbangan badan, sikap tubuh dan kesesuaian penggunaan lengan/tangan untuk menangkap serangan. Teknik tangkapan dapat dilakukan dengan satu atau dua lengan. Berdasarkan penggunaan lengan, teknik tangkapan dapat dibedakan dalam 3 bentuk, yaitu tangkapan tangan, lengan dan ketiak/kempit.
Tangkapan adalah suatu usaha pembelaan dengan cara menahan lengan/tungkai lawan untuk menjaga serangan berikutnya atau merupakan unsur dari teknik jatuhan atau kuncian. Tangkapan dapat dilakukan dengan satu atau dua lengan. Unsur tangkapan meliputi kuda-kuda dan sikap tubuh yang memperhitungkan titik berat badan yang memberikan   keseimbangan yang kuat. Dalam keseimbangan itu bukanlah berarti kuda-kuda demikian kokoh sehingga sukar bergerak, bahkan sebaliknya haruslah mudah berubah ke bentuk posisi yang lain. Pengaturan tenaga seefisien mungkin agar tidak cepat lelah dalam menghadapi lawan yang kuat.
Tangkapan yang baik didahului dengan teknik elakan, yaitu menghindar dari sasaran gerak lawan atau dari lintasan serangan lawan, atau dengan teknik tangkisan. Tangkapan dapat dilanjutkan dengan teknik jatuhan atau kuncian.
1)      Tangkapan satu lengan, terdiri dari
a)      Tangkapan dengan tangan
b)      Tangkapan dengan lengan
c)      Tangkapan dengan ketiak/kempit
2)      Tangkapan tangan, meliputi :
a)      Tangkapan dalam ke luar
b)      Tangkapan luar ke dalam
c)      Tangkapan dilanjutkan dengan kuncian (lipatan belakang atau bawah)
3)      Tangkapan lengan, meliputi :
a)      Tangkapan dari dalam ke luar (lurus)
b)      Tangkapan dari dalam ke luar (serong)
c)      Tangkapan dari luar ke dalam.
4)      Tangkapan ketiak/kempit
5)      Tangkapan dua tangan, meliputi :
a)      Tangkapan dua tangan rapat searah
b)      Tangkapan dua tangan rapat berlawanan
c)      Tangkapan renggang searah
d)     Tangkapan renggang berlawanan

3.      Jatuhan
            Jatuhan adalah teknik menjatuhkan lawan sebagai tindak lanjut dari teknik tangkapan atau serangan langsung. Teknik jatuhan dapat dilakukan dengan menambah tenaga serangan lawan searah, merubah arah serangan lawan, menghilangkan tumpuan badan lawan.
            Jatuhan adalah usaha menjatuhkan lawan sebagai tindak lanjut dari tangkapan atau secara langsung. Jatuhan dapat dilakukan dengan cara :
a.       Menambah tenaga serangan lawan searah dengan : (1) tarikan dan (2) dorongan.
b.      Menambah tenaga serangan lawan tarikan dan dorongan diawali dengan gerak elakan. Pertama tangkap tarik searah serangan dan kedua hindar kemudian dorong searah serangan.
c.       Merubah arah serangan lawan dengan : (1) tarikan, (2) dorongan dan (3) putaran.
            Untuk merubah arah serangan lawan dengan tarikan, dorongan dan putaran, dimana teknik ini didahului dengan elakan atau tangkapan. Meniadakan tumpuan badan lawan dengan:
a.       Sapuan : meniadakan tumpuan badan lawan dengan sapuan usaha menjatuhkan lawan dengan cara menyapu kaki lawan menggunakan kaki. Dapat dilakukan dengan posisi tegak, rebah dan lingkar.
b.      Kaitan : meniadakan tumpuan lawan dengan kaitan, adalah usaha menjatuhkan lawan dengan cara mengait lawan dengan menggunakan kaki. Dapat dilakukan dengan arah luar, dalam dan belakang.
c.       Angkatan : meniadakan tumpuan badan lawan dengan angkatan, adalah usaha menjatuhkan lawan dengan cara mengangkat kaki lawan dengan kaki. Dilakukan dari dalam atau dari belakang.
d.      Ungkitan : meniadakan tumpuan badan lawan dengan ungkitan, adalah usaha menjatuhkan lawan dengan cara mengungkit / mengganjal kaki lawan dengan menggunakan kaki disertai dengan dorongan tangan.
e.       Guntingan : meniadakan tumpuan badan lawan, dapat juga dilaksanakan dengan guntingan, yaitu usaha menjatuhkan lawan dengan cara menggunting kaki lawan dengan menggunakan kaki. Dilakukan dengan merebahkan diri.
           
                        Macam-macam teknik jatuhan terdiri dari :
a.       Menambah tenaga serangan lawan searah
                  Teknik ini dapat dilakukan dengan cara tarikan atau dorongan.
1)      Dengan cara tarikan, pertama tangkap dan tarik searah dengan serangan
2)      Dengan cara dorongan, pertama hindar dan dorong searah
b.      Merubah arah serangan
Teknik jatuhan ini dapat dilakukan dengan cara tarikan, dorongan dan putaran yang didahului dengan teknik elakan atau tangkapan, yaitu :
1)      Dengan cara tarikan, pertama tangkap dan tarik kesamping atau bawah.
2)      Dengan cara dorongan, pertama elak dan dorong ke samping.
3)      Dengan cara putaran, pertama tangkap dan putar ke kiri atau kanan.
c.       Menghilangkan tumpuan badan lawan
Teknik jatuhan dengan menghilangkan tumpuan badan lawan dapat dilakukan dengan sapuan, kaitan, angkatan, ungkitan dan guntingan.
1)      Sapuan, yaitu menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara menyapu kaki lawan dengan kaki dan dapat dilakukan dengan posisi tegak, rebah dan melingkar.
2)      Kaitan, yaitu menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara mengait kaki tumpu lawan dengan menggunakan kaki. Kaitan dapat dilakukan dari arah luar, dalam dan belakang.
3)      Angkatan, yaitu menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara mengangkat kaki lawan dengan kaki. Angkatan dapat dilakukan dari arah dalam dan belakang.

4)      Ungkitan, adalah menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara mengungkit atau mengganjal kaki lawan dengan menggunakan kaki disertai dorongan lengan.

5)      Guntingan, yaitu menghilangkan tumpuan badan lawan dengan cara menggunting kedua kaki lawan dengan menggunakan dua kaki sambil merebahkan diri.


4.      Lepasan
Lepasan adalah teknik melepaskan diri dari tangkapan lawan. Teknik lepasan dilakukan dengan cara  menarik lepas dengan satu tangan, dua tangan, satu kaki dan dua kaki. Lepasan   adalah   usaha   untuk   melepaskan   diri dari tangkapan lawan, dilakukan dengan cara :
a.       Lepasan dengan satu tangan, terdiri dari :
1)      Putaran
2)      Sentakan
3)      Tangkapan balasa
b.      Teknik lepasan dua tangan, terdiri dari :
1)      Bantuan
2)      Serangan
3)      Bukaan
c.       Lepasan dengan kaki, dilakukan dengan cara melipat lutut kaki yang ditangkap disertai dengan tarikan lengan.
d.      Teknik lepasan dengan dua kaki, dilakukan dengan cara memutar badan dengan menarik kaki yang ditangkap disusul dengan tendangan belakang kaki lainnya.
5.      Kuncian
Kuncian adalah menguasai lawan dengan tangkapan sempurna sehingga lawan tidak berdaya. Teknik kuncian dapat dilakukan untuk menahan kemungkinan gerak lawan sambil mematikan tiga titik persendian anggota badan lawan. Jenis tangkapan yang digunakan dalam kuncian adalah tangkapan dengan tangan dan tungkai.
      Kuncian dapat dilakukan dengan cara :
a.       Menahan kemungkinan gerak lawan
b.      Mematikan gerak sendi dengan lipatan.

            Unsur tangkapan dalam kuncian dapat merupakan tangkapan tangan atau kaki. Teknik kuncian pada umumnya adalah mematikan tiga tempat/titik anggota badan lawan. Kuncian dengan diawali tangkapan tangan dilakukan dengan cara mengangkat lengan dilanjutkan dengan lipatan ke belakang atau ke bawah.Kuncian dengan diawali menangkap kaki dilakukan dengan cara menjatuhkan lawan.










1 komentar:

  1. makasih bang buat info p.silatnya,komplit bgt soalnya isinya.!!

    BalasHapus